Rumah Dome Yogyakarta

7 Fakta Rumah Tahan Gempa di Yogyakarta

Gempa Lombok yang masih saja terjadi dalam sepekan ini mengingatkan kita pada kejadian gempa Yogya Mei 2006 lalu. Banyak bangunan rata dengan tanah, sehingga memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengembalikannya seperti semula.

Dusun Desa Nglepen, Prambanan, Sleman adalah salah satu daerah yang porak poranda. Hingga kemudian The Dome For The World Foundation menawarkan bantuan untuk membuatkan rumah tahan gempa bagi mereka. Namun selain tahan gempa, rumah dome tersebut juga tahan rayap dan tikus.

Nah ini adalah 7 fakta tentang rumah dome yang sekarang menjelma menjadi tempat wisata di daerah Yogyakarta.

1. Seperti “Rumah Teletubbies”

Jika selama ini Anda hanya bisa menyaksikan rumah teletubbies di layar kaca, maka di di Desa Nglepen, Prambanan, Yogyakarta rumah-rumah berbentuk dome itu nyata ada. Rumah tahan gempa yang dibangun pasca gempa Yogyakarta tahun 2006 tersebut berwarna-warni dan mirip dengan rumah dome teletubbies. Rumah berbentuk dome ini adalah rancangan dari Dekan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Ir. Nizam, M.Sc., Ph.D.

2. Warga tidak tahu bentuk rumahnya kubah

Awalnya warga yang menjadi korban gempa diberi pilihan menerima uang Rp15 juta untuk membeli tanah sendiri atau menerima rumah bantuan. Dan ternyata lebih dari 80% memilih untuk menerima rumah berbentuk kubah tersebut. Rumah tersebut memiliki dua lantai dengan diameter 7 m, tinggi 4 m, dua jendela dan pintu.

3. Hanya ada di lima negara

Menurut laman situs The Dome For World Fondation, mereka hanya membuat rumah berbentuk dome ini hanya di lima negara yang menjadi sasaran bantuan, yaitu India, Etiopia, Haiti, Belize dan Indonesia.

4. Jadi desa wisata

Sejak tahun 2008, rumah dome ini resmi dijadikan tempat wisata. Pengunjung diperbolehkan menginap dengan membayar tarif tertentu. Ada juga jeep yang akan mengantarkan berkeliling desa, menikmati rumah-rumah dengan bentuk unik dan berwarna-warni. Rumah Teletubbies, begitu perkampungan tersebut sekarang dikenal. Hal tersebut tentu berdampak positif bagi masyarakat setempat, kaerena bisa menambah penghasilan mereka.

5. Toilet bersama

Karena rumahnya yang memang berukuran kecil, maka toilet di sana dibangun di luar rumah dan digunakan bersama. Meski pada kenyataannya, sekarang sudah mulai banyak penduduk yang membangun rumah tambahan untuk toilet.

Jumlah bangunan di rumah dome tersebut sebanyak 81 buah. Ada 71 Kepala Keluarga tinggal di sana, dan selebihnya digunakan untuk toilet, klinik, TK, mushallah, aula dan fasilitas umum lainnya.

6. Pondasi 20 m ke dalam tanah

Rumah dome ini tidak menggunakan atap berupa genting atau semen. Karena ini rumah tahan gempa, maka pondasi bangunan inipun mencapai 20 m ke dalam tanah. Segala proses pembangunan rumah ini dilaksanakan bersama-sama masyarakat.

7. Penduduk tak punya hak milik atas tanah itu

Kabarnya penduduk yang tinggal di sana tidak mempunyai izin kepemilikan atas rumah tersebut. Namun begitu, mereka juga tidak dibatasi sampai kapan mereka harus tinggal. Rumah bantuan tersebut hanya boleh diwariskan kepada keturunan mereka. Sedangkan tanah bekas rumah mereka yang roboh saat gempa tetap menjadi hak melik mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *